Perempuan etnis Dao Merah menyulam busana tradisional (Foto:baotuyenquang.com.vn_

Bagi etnis Dao Merah, upacara “cấp sắc” bukan sekadar ritual yang menandai kedewasaan seorang pria, melainkan juga sebuah "paspor" agar eksistensi mereka diakui, baik di tengah masyarakat maupun di dunia spiritual. Dalam ritual yang sakral tersebut, busana sulaman brokat merupakan jiwa sekaligus identitas budaya yang tak terpisahkan.

Busana “cấp sắc” etnis Dao Merah umumnya terdiri dari jubah panjang, celana, ikat kepala, ikat pinggang dan lembaran kain sulam dekoratif. Warna utamanya adalah merah, yang dipadukan dengan hitam, putih, serta kuning, melambangkan api, bumi, langit, dan manusia. Di atas kain berwarna nila, motif-motif seperti kotak, salib, gigi gergaji, pohon pinus, hingga bintang disulam dengan tangan secara sangat teliti. Keistimewaannya, setiap motif mengandung makna spiritual tersendiri. Sebagai contoh: bentuk kotak melambangkan bumi—tempat manusia lahir dan tumbuh; sementara pola gigi gergaji merepresentasikan pegunungan dan hutan—ruang hidup masyarakat Dao. Deretan motif yang memanjang pada bagian badan baju diibaratkan sebagai jalan penghubung antara dunia fana dan dunia leluhur. Lebih dari sekadar seni rupa, sulaman brokat “cấp sắc” juga menjadi wadah untuk menyematkan doa dan harapan: agar anak cucu senantiasa sehat, usahanya lancar, hidup beretika, serta tahu menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda.

Persiapan upacara Cấp Sắc (Foto: VOV)

Ibu Trieu Mui Moi, seorang warga etnis Dao dari Dusun Nam Cai, Kecamatan Tien Nguyen, Provinsi Tuyen Quang, mengatakan:

"Menurut adat istiadat, saat bersiap menyulam busana “cấp sắc”, ada banyak pantangan yang harus dipatuhi. Misalnya: keluarga yang sedang berduka atau wanita yang sedang datang bulan tidak diperkenankan ikut menyulam. Busana “cấp sắc” untuk pria terdiri dari tiga lapis baju, sedangkan untuk wanita biasanya dua lapis. Lapisan baju bagian luar disulam dengan berbagai motif dan corak dekoratif; selain itu juga dilengkapi dengan ikat kepala dan kain lilit kaki—semuanya disulam secara saksama dengan motif-motif yang khas."

Berbeda dengan banyak etnis lainnya, busana “cấp sắc” etnis Dao Merah tidak tersedia dalam bentuk siap pakai, apalagi dibeli di pasar. Setiap tusukan jarum dan helai benang dikerjakan langsung oleh tangan para perempuan di dalam keluarga, dipersiapkan sejak berbulan-bulan, bahkan setahun sebelum hari upacara. Kesibukan ini semakin terasa menjelang hari raya Tet (Tahun Baru Imlek), di mana aktivitas menyulam di dekat tungku api menjadi semakin semarak. Sosok yang dipercaya oleh tuan rumah untuk menyulam busana ini haruslah orang yang memiliki reputasi, dihormati di dalam klannya, serta harus sudah pernah melewati upacara “cấp sắc” untuk dapat mengemban tanggung jawab tersebut.

Suasana upacara (Foto: VOV)

Bukan sekadar sepotong busana, setiap setel brokat “cấp sắc” adalah sebuah narasi yang menceritakan tentang asal usul, kepercayaan, serta ketangkasan dan kesabaran para perempuan Dao Merah. Ibu Trieu Mui Moi menambahkan:

"Setelah upacara “cấp sắc” selesai dan disaksikan oleh para leluhur bahwa ia telah menjalani ritual kedewasaan, orang yang diinisiasi wajib mengenakan busana “cấp sắc” tersebut selama 7 hari berturut-turut tanpa boleh dilepas. Setelah masa tersebut berakhir, pada kesempatan festival atau perayaan, mereka masih dapat mengenakan busana pakaian itu kembali."

Di tengah arus kehidupan modern, kerajinan sulam busana adat brokat “cấp sắc” tengah menghadapi berbagai tantangan. Kain industri dan siap pakai kini semakin menjamur. Generasi muda memiliki lebih sedikit waktu untuk duduk di dekat tungku api, bersabar dengan setiap tusukan jarum sulam yang kecil. Kendati demikian, di berbagai daerah seperti Chiem Hoa, Ham Yen, Quang Binh, hingga Tuyen Quang, kerajinan sulam tradisional ini masih terus dilestarikan berkat peran para perajin sepuh serta kesadaran masyarakat dalam menjaga warisan budaya. Banyak desa dan dusun telah membentuk kelompok sulam serta klub perempuan, yang memberikan pelatihan secara gratis kepada generasi muda. Ibu Trieu Mui Sai, seorang pengrajin sulam brokat senior di Desa Tien Nguyen, Provinsi Tuyen Quang, mengungkapkan:

"Kerajinan sulam busana “cấp sắc” adalah jiwa budaya etnis Dao. Kami senantiasa mengajak warga, khususnya generasi muda, untuk aktif mempelajari keterampilan ini. Pada saat yang sama, kami juga berharap akan ada lebih banyak kelas pelatihan serta dukungan agar kerajinan sulam ini dapat diintegrasikan dengan pengembangan pariwisata, sehingga mampu meningkatkan pendapatan masyarakat."

Upacara ritual (foto: VOV)

Dalam beberapa tahun terakhir, integrasi antara kerajinan sulam brokat Dao Merah dan pengembangan pariwisata berbasis masyarakat telah membuka arah baru. Produk-produk sulaman tangan untuk upacara “cấp sắc” kini diperkenalkan dalam berbagai festival budaya, hari persatuan nasional, dan khususnya pada berbagai kegiatan di awal musim semi, menjadikannya sebuah kebanggaan tersendiri bagi masyarakat etnis Dao Merah di Provinsi Tuyen Quang./.