Proyek “Digitalisasi Buku Daun Buong” mulai digelar sejak tahun 2025 dengan dukungan pendanaan dari Dana Dukungan Kanada . Foto: VOV

Muncul di Vietnam Selatan sejak sekitar pertengahan abad XIX, Kitab suci Buddha yang ditulis di atas daun buong atau disebut buku daun buong (nama ilmiahnya Corypha lecomtei) merupakan aset tak ternilai. Warisan ini mengandung nilai budaya, teknis, artistik, dan estetika, serta memiliki makna penting dalam kehidupan spiritual dan keagamaan masyarakat etnis minoritas Khmer. Saat ini, buku daun buong beresiko rusak akibat faktor lingkungan. Secara khusus, teknik menulis di atas daun buong secara bertahap mulai punah.

Menyadari pentingnya hal tersebut, proyek "Digitalisasi Buku Daun Buong" pun digelar. Namun, tim pelaksana menghadapi banyak tantangan. Doktor Huynh Sang, Wakil Kepala Seksi Administrasi, Sekolah Bahasa-Budaya-Seni Khmer Selatan dan Humaniora, mengatakan:

“Dalam pelaksanaannya, proyek ini melibatkan partisipasi aktif tim pakar dari Universitas Tra Vinh. Selain itu, para biksu yang mengajar di berbagai pagoda dan guru dari Sekolah Tambahan Budaya Pali Khmer di Provinsi Vinh Long juga memberikan sumber daya manusia yang penting, turut menjamin kelancaran proyek. Di samping itu, proyek ini juga mendapat dukungan dari kepala biara Pagoda Samrong Ek. Namun, proses pelaksanaannya masih menghadapi beberapa kesulitan, terutama kekurangan peralatan. Setelah data disempurnakan, sebuah situs web akan dirancang untuk menyebarluaskan dan membagikan hasil yang telah dicapai.

Data yang telah didigitalisasi menjadi sumber data linguistik yang memungkinkan para dosen dan mahasiswa untuk membandingkan perubahan dalam bahasa Khmer selama periode yang berbeda. Foto: VOV

Selain aspek pelestarian, proyek tersebut juga membuka peluang berharga bagi penelitian dan pendidikan. Selama proses survei dan penelitian, proyek tersebut berhasil mengumpulkan lebih dari 1.300 buku daun buong, atau setara dengan lebih dari 60.000 halaman. Ini merupakan sumber dokumen dengan nilai yang sangat besar. Doktor Ngo So Phia, Sekolah Bahasa-Budaya-Seni Khmer Selatan dan Humaniora, menyatakan bahwa data digital ini akan menjadi sumber daya linguistik yang kaya, membantu para dosen dan mahasiswa untuk membandingkan dan membedakan perubahan bahasa Khmer dari waktu ke waktu, sehingga memahami budaya etnis mereka secara lebih mendalam.

“Tujuan utama proyek ini adalah melestarikan warisan berharga yang ditinggalkan oleh leluhur, agar generasi muda – khususnya mahasiswa dan peneliti –bisa mengakses sumber daya linguistik terkait dengan buku daun buong kuno. Selama proses penelitian dan pembelajaran, mereka dapat membandingkan bahasa kuno dengan bahasa modern untuk mengidentifikasi perbedaan dan mengembangkan arah penelitian akademis yang mendalam. Di samping itu, penerapan teknologi informasi dalam konservasi tidak hanya membantu melestarikan warisan budaya bangsa secara berkelanjutan, tetapi juga memfasilitasi penyebaran nilainya kepada masyarakat secara lebih luas.”

Guru Kim Som Ri Thi (berbaju putih), mengajar ukiran aksara Khmer di daun buong di Pagoda Soài So (Kecamatan Tri Tôn, Provinsi An Giang). Foto: VOV

Selain melestarikan artefak di platform digital, beberapa pagoda Buddha Theravada Khmer juga memberikan perhatian khusus terhadap pewarisan pengetahuan kuno kepada generasi muda. Kim Som Ri Thi, guru yang mengajar ukiran aksara Khmer di daun buong di Pagoda Soai So (Kecamatan Tri Ton, Provinsi An Giang), mengatakan bahwa mempertahankan kebiasaan membaca dan mengukir membantu para pelajar memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang fonetik dan aksara kuno, sekaligus mengakses nilai-nilai moral dan filosofi hidup yang ditanamkan leluhur di setiap halaman buku.

"Sebagai seseorang yang mendalami dan pernah mempelajari seni ukir huruf di atas daun buong, saya tentu berharap agar generasi mendatang memiliki minat yang lebih besar dan kuat dalam mengukir dan mempelajari aksara Khmer kuno. Bersamaan dengan itu, saya juga berharap mereka akan mempelajari cara membuat buku buong dan kitab-kitab suci Buddha daun buong yang diwarisi oleh para leluhur".

Buku-buku daun buong merupakan aset tak ternilai yang mengandung nilai budaya, teknis, artistik, dan estetika, serta memiliki arti penting dalam kehidupan spiritual dan keagamaan masyarakat Khmer. Foto: VOV

Digitalisasi yang bersanding dengan pelestarian tradisi membuka jalan baru untuk melindungi dan menghidupkan kembali khazanah buku daun buong. Nilai-nilai budaya dan pengetahuan leluhur tersebut tidak lagi tersimpan di dalam lemari kayu, melainkan melangkah ke dunia yang lebih luas, mendekatkan masyarakat, terutama generasi muda, dan berkontribusi dalam mengabadikan identitas budaya bangsa./.