
Profesor Kurihara Hirohide
(Foto: baotintuc.vn)
Menurut dia, vonis ini telah merapati hukum internasional dan dikeluarkan di atas dasar penelitian secara hati-hati tentang sejarah dan staus quo di Laut Timur. Dia menganggap bahwa klaim kedaulatan Tiongkok terhadap sebagian besar Laut Timur merupakan tindakan yang tidak bisa diterima. Tiongkok sering membedakan “negara-negara yang bersangkutan” dan “negara-negara yang tidak bersangkutan” untuk menghalangi negara-negara yang disebut Beijing sebagai “di luar kawasan” seperti Amerika Serikat dan Jepang melakukan intervensi terhadap masalah Laut Timur. Laut Timur merupakan peta jalan maritim internasional yang penting, oleh karena itu, perihal Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe mengungkapkan masalah Laut Timur pada KTT ASEM-11 di Ulan Bator, ibukota Monggolia baru-baru ini merupakan hal yang tepat dan perlu.
Tentang keputusan Mahkamah Arbitrase bahwa tidak ada struktur manapun yang diklaim oleh Tiongkok di Laut Timur mampu menciptakan zona ekonomi eksklusif, Profesor Kurihara Hirohide menekankan: Menurut UNCLOS-1982, pembangunan pulau-pulau buatan di Laut Timur oleh Tiongkok akan tidak bermanfaat. Menurut keputusan Mahkamah Arbitrase, semua tindakan pembangunan pulau buatan dari Tiongkok di Laut Timur telah merusak lingkungan alam di wilayah laut ini. Profesor Kurihara Hirohide juga menekankan bahwa perihal Tiongkok tidak menerima dan tidak mengakui keputusan Mahkamah Arbitrase memaninfestasikan sikap yang tidak menaati hukum internasional. Hal itu akan membuat Beijing kehilangan prestise di gelanggang internasional
Vietnamese
中文
日本語
한국어
Français
Русский
Deutsch
Español
Bahasa Indonesia
ไทย
ພາສາລາວ
ខ្មែរ